“THE FREEDOM WRITERS”, RECOMMENDED BANGET BUAT DITONTON

29 Dec 2014

Bagi kalian mahasiswa psikologi dan bimbingan konseling, jangan ngaku ahli menyelesaikan masalah pendidikan kalau belum nonton film ini!!

Film kadang kala memberikan kita pemahaman dan peajaran tersendiri dalam menganalisa sebuah permasalahan. Terdapat sebuah film yang sangat recommended sekali untuk ditonton. Film ini dikemas secara apik untuk menyuguhkan suatu problematika perilaku yang terdapat disekolah. Dalam film ini, dibahas mengenai cara mengatasi masalah-masalah besar yang terdapat disekolah, hingga akhirnya masalah-masalah tersebut dapat dipecahkan.

a3b0bd34c5bb57c81a83a7b46cb6cff4_film * sumber gambar : klik ini

Film “The Freedom Writers” diangkat dari kisah nyata dari buku harian siswa-siswa ruang 203 Woodrow Wilson H.S. Awal mula permasalahan di film ini berasal dari kasus kerusuhan di LA California. Pada tahun 1992, setelah terdapat kerusuhan di Rodney King (nama daerah di LA California) kasus kekerasan geng dan ketegangan rasial memuncak tinggi.

Kekerasan geng dan ketegangan rasial juga terjadi di sekolah, termasuk dalam kelas sekalipun. Disekolah dan di kelas terdapat pengelompokkan orang berdasarkan warna kulitnya. Orang kulit hitam, kulit putih, asia, kamboja, dan orang latin memiliki grup tersendiri yang sering disebut dengan geng. Pengelompokkan ini terjadi disetiap sudut sekolah dan kelas. Bahkan hingga tempat duduk mereka pun selalu berdasarkan perkumpulan “geng“. Mengatasi hal tersebut, terdapat salah satu wanita yang menjadi guru di sekolah Woodrow Wilson yang ingin mendidik siswa-siswa tersebut agar bisa menyatu dan memiliki rasa kekeluargaan dengan baik. Awalnya, ide guru ini dianggap sebagai mustahi. Namun ia tetap bersih kukuh untuk memperjuagkan idenya menjadi sebuah realita. Sehingga dia memiliki langkah-langkah strategi untuk menyatukan siswa-siswanya.

Langkah pertama yang dilakukan guru ini adalah dengan cara me-rolling tempat duduk siswa. Jadi, siswa yang awalnya duduk berdasarkan pengelompokkan gengnya, akhirnya dipisah oleh sang guru agar bisa membaur dan merata satu sama lain. Memang pengelompokkan ini cukup efektif. Pasalnya, keadaan kelas yang awalnya ramai dan tidak terkondisikan, kini bisa menjadi lebih tenang. Namun hal ini ternyata mengurangi antusias siswa-siswa dalam belajar, hingga satu demi satu siswa tidak masuk dalam kelas tersebut karena merasa tidak nyaman dengan posisi duduk yang disebar dan tidak mengelompok satu geng lagi dalam kelas. Perkelahian karena kasus rasial masih marak terjadi dalam sekolah ini. Terdapat pula perkelahian antar geng hingga terjadi kasus penembakkan antar siswa hanya karena kasus ketegangan rasial. Dalam beberapa anggota geng (termasuk siswa) menganggap bahwa membela geng adalah perbuatan mulia. Bahkan hingga sampai mati sekalipun ini adalah perbuatan mulia, karena akan dianggap mati terhormat dalam membela geng atau kelompok.

Langkah kedua yang dilakukan sang guru untuk menyatukan siswa-siswanya adalah dengan cara permainan garis. Siswa-siswa yang terdapat dalam kelas tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar yang saling kontra satu sama lain. Aturan mainnya adalah ketika guru mengemukakan argument yang sesuai dengan pendapat siswanya, maka siswa tersebut akan maju dalam garis. Namun jika argument dari guru tidak sependapat dengan siswa, maka siswa tersebut diperbolehkan dengan untuk mundur dalam garis. Pada saat siswa dalam dua kelompok tersebut maju dan saling berhadapan satu sama lain, terjadi gejolak emosi yang ada diantara dua kelompok ini. Saling memandang dengan mata yang tajam sembari mengernyutkan dahi, itulah ekspresi yang nampak daru dua kubu kelompok siswa-siswa yang salin kontra ini.

Sesaat ketika permainan garis selesai dilakukan , maka sang guru wanita ini melakukan langkah ketiga untuk mendalami karakter siswa-siswanya. Guru ini percaya bahwa pendidikan akan berhasil ketika guru mengetahui karakter dan kepribadian siswa-siswanya. Oleh karena itu, untuk mengetahui hal tersebut, guru ini membagikan buku diary pada siswa-siswanya. Buku diary ini digunakan untuk menuliskan kisah atau pengalaman masa lalui hingga masa sekarang. Melalui buku diary tersebut, siswa-siswa ini dapat mengeksplor segala macam rasa yang sedang atau telah mereka hadapi.

Melihat kemajuan yang ada dalam diri siswa-siswa tersebut, sang guru ini semakin antusias untuk membuat pembelajaran semakin menarik dan menyenangkan. Langkah ke empat yang dilakukan guru ini adalah mengajak siswa-siswanya untuk tour setiap akhir pekan. Dalam kesempatan tersebut siswa akan diberi subjek secara random, untuk menyelidiki subjek-subjek mereka akan dibawa ke camp yang mana dan masuk geng apa. Siswa-siswa tersebut juga diajak ke museum untuk melihat sejarah pergolakan “geng“. Mereka juga melihat film bersama tentang “geng” dan kekerasan sosial. Pada kesempatan tersebut, mereka mendapat pengalaman baru yang menyenangkan yang belum pernah mereka dapatkan pada pembelajaran sebelumnya.

Kemajuan siswa-siswa ini semakin terlihat dan misi guru ini pun tetap berlanjut. Langkah ke lima yang dilakukan sang guru adalah mengajak makan malam bersama siswa dihotel berbintang dan mengajak siswa-siswa tersebut bertemu langsung dengan orang yang pernah mengalami kekerasan geng dan ketegangan rasial. Pada kesempatan tersebut terjadi sharing dan diskusi singkat antara siswa dengan narasumber. Para siswa ini sangat antusias dalam mendengarkan dan berbagi kisah dalam kegiatan ini karena mereka merasa bahwa terdapat orang yang mengalami kejadian serupa.

Langkah ke enam yang dilakukan guru wanita ini adalah dengan memberi goodie bag yang berisi empat sebagai bekal setelah liburan dan juga melakukan kegiatan pesta kecil-kecilan dengan mengajak para siswa untuk bersulang untuk sebuah harapan baru. Pada kesempatan kali ini, terlihat mulai ada perubahan dalam kelas tersebut. Para siswa sudah mulai membaur antar gengnya dan mulai terlihat lebih hangat dalam bergaul. Kegiatan pemberian buku ini, ternyata menumbuhkan minat baca siswa menjadi lebih baik dan berkembang lebih pesat.

Ketika siswa-siswa ini mulai larut dalam alur cerita dalam buku yang ia baca. Sang guru memiliki ide untuk menghadirkan tokoh dari buku tersebut untuk bertemu dengan siswanya dan melakukan diskusi sekaligus sharing mengenai kekerasan geng dan ketegangan rasial. Sang guru ini tahu, meski menghadirkan tokoh dalam buku tersebut tidaklah mudah dan membutuhkan biaya yang banyak. Namun, hal ini tidak menyurutkannya. Apalagi para siswanya juga memiliki antusias tinggi untuk bertemu tokoh tersebut. Alhasil, para siswa ini pun membantu sang guru untuk melakukan penggalangan dana hingga ahkhirnya sang tokoh tersebut dapat dihadirkan dan melakukan kegiatan sharing dan diskusi bersama dengan siswa-siswa tersebut. Setelah para siswa ini melakukan diskusi dan sharing bersama tokoh dari sebuah buku, mereka mendapat sentuhan dari pengalaman tokoh tersebut menghadapi kekerasang geng dan ketegangan rasial. Berawal dari itulah sudut pandang mereka akhirnya berubah. Para siswa ini sudah mampu membedakan perlakuan benar atau salah ketika bertindak. Meski awalnya dibutakan oleh pembelaan pada kelompok (geng) apapun yang terjadi, kini mereka akan melakukan pembenaran. Melakukan kegiatan atau perlakuan yang benar meskipun hal ini bertentangan dengan kelompok atau geng mereka. Inilah perubahan pesat yang terjadi dalam siswa-siswa tersebut. Kemajuan para siswa ini juga terlihat dikelas, tempat duduk mereka awalya memang terbagi menjadi dua kelompok besar yang tidak bisa bergaul satu sama lain. Namun sekarang, sudah tidak terdapat pembagian tempat dua kelompok besar. Tempat duduk para siswa ini sudah normal seperti biasa menghadap papan tulis dan membaur satu sama lain. Inilah bukti pesat kemajuan para siswa kelas bahasa Inggris di sekolah Woodrow.

Mendapati siswanya yang semakin aktif menulis buku diary yang sebagian besar topiknya mengenai kekerasan geng dan ketegangan rasial, maka guru wanita ini membuat satu langkah terakhir yang semakin menyatukan siswanya, yakni dengan cara membukukan buku diary siswanya menjadi sebuah buku yang berjudul “The Freedom Writers Diary” atau Penulis Kemerdekaan. Melalui buku inilah para siswa di sekolah Woodrow Wilson menjadi lebih menyatu tanpa memandang latar belakang geng.

Kalian penasaran untuk menonton cerita lengkapnya??

Makanya buruan nonton ini film dan jangan lupa analisa permasalahan pendidikan dan cara mengatasinya. Yakin deh, kalau kalian bisa menganalisa film ini, insyaallah kemampuan kalian dalam pemecahan masalah (khususnya dalam duni pendidikan) akan semakin baik.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Gerakan #SemangatNgeblog


TAGS The Freedom Letters Film Recommended Psychology


-

Author

Search

Recent Post