SECUIL KISAH DAN KASIH SAAT PPL DI SDN SUMBERSARI 3 MALANG

29 Dec 2014

Bukan perkara yang mudah basi saya ketika dihadapkan dengan semester tujuh. Sungguh semester yang bisa dibilang menguras tenaga ekstra dalam menuntaskan tugas-tugas perkuliahan. Pada semester ini, saya dan teman-teman psikologi lainnya (angkatan 2011, Universitas Negeri Malang) dituntut untuk bisa menyelesaikan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan seminar proposal skripsi.

Awalnya memang terlihat berat sih. Namun dengan adanya tekad dan dukungan dari orang-orang terkasih, kaki dan hati ini mantap menjalani semester tuujuh dengan maksimal. Langkah awal yang saya lakukan adalah memilih sekolah untuk saya jadikan lokasi PPL. Kali ini, saya memilih SDN Sumbersari 3 Malang. Alasan mendasar adalah SD ini sangat strategis untuk saya jadikan lokasi PPL, selain itu SD ini merupakan SD percontohan untuk pengembangan sekolah inklusi pada taraf pendidikan dasar.

Pada kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), hal pertama yang dilakukan adalah kegiatan need assessment. Need assessment merupakan kegiatan awal untuk menggali informasi lebih dalam untuk mendapatkan satu subjek dalam pengembangan sebuah treatment & sebagai langkah awal untuk mendiagnosa gangguan pada subjek. Need assessment yang dilakukan oleh penulis menggunakan 2 tahap.

Tahap pertama adalah dengan cara melakukan observasi. Observasi dilakukan pada tanggal 30 Agustus 2014, 1 September 2014, dan juga 3 September 2014. Observasi dilakukan di dalam kelas 6 dan ruang sumber belajar inklusi. Ketika berada di kelas, penulis memposisikan diri di belakang siswa untuk mengamati segala macam perilaku yang nampak saat berada dikelas. Terlihat bahwa terdapat satu siswa yang memang membutuhkan bantuan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Siswa tersebut memiliki shadow perempuan yang senantiasa mendampinginya dalam proses pembelajaran. Begitu pula diruang inklusi, siswa ini juga terkesan aktif dan mengeluarkan air liur dalam setiap kesempatan. Ketika berjalan, nampak kaki kanannya tidak bisa melakukan fungsi geraknya secara maksimal. Begitu juga dengan tangan kanannya yang juga kaku dan belum bisa memaksimalkan geraknya secara maksimal. Dalam hal akademik, siswa ini belum bisa mengingat secara penuh huruf alphabet, terutama ” b, d, dan p”. Kemudian, dalam hal membaca pun siswa ini belum mampu membaca gabungan dari dua atau tiga suku kata. Kemudian dalam aspek menulis, siswa ini mampu menulis namun tulisan yang ia goreskan pada buku masih berukuran terlalu besar untuk siswa kelas 6. Dalam aspek berhitung, siswa ini sudah mampu mengenal angka satuan 1 sampai 10. Namun dalam hal penjumlahan dan pengurangan, ia belum mampu melakukannnya secara mandiri.

Jika tahap pertama (observasi) telah dilakukan oleh penulis, maka penulis melengkapi data yang diperoleh dengan cara wawancara pada guru kelas 6 (Bu Ida) dan guru pembimbing khusus (Bu Enta) untuk mencari tahu perkembangan siswa tersebut. Melalui wawancara yang dilakukan pada tanggal 30 Agustus 2014 dan 3 September 2014 diperoleh data bahwa siswa tersebut bernama AN (nama disamarkan). Siswa ini mengalami gangguan Celebral Palsy (CP). Dalam pembelajaran kesehariannya, ia sering mengalami kesulitan dalam melakukan pembelajaran. Oleh karenanya, ia membutuhkan shadow untuk senantiasa mendampinginya dalam proses pembelajaran. Awalnya AN lahir secara premature ketika kandungan ibunya mencapai usia 7 bulan. Ciri-ciri keanehan mulai nampak disini. Ketika AN masih kecil, ia mengalami sakit sesak napas dan sedikit demi sedikit perkembangannya pun menjadi tidak stabil. Menurut guru pembimbing khusus (Bu Enta), AN mengalami Celebral Palsy, dan terapi yang ia gunakan adalah terapi okupasi. Oleh karenanya, AN masih membutuhkan bantuan dalam mengerjakan beberapa kegiatan kesehariannya.

Berdasarkan need assessment yang dilakukan menggunakan metode observasi dan wawancara, diperoleh hasil need assesement bahwa :

Subjek yang bernama AN mengalami gangguan Celebral Palsy (CP). Celebral palsy (CP) merupakan jenis dari kelainan tuna daksa, yakni orang yang memiliki kelainan gerak, postur, atau bentuk tubuh, gangguan koordinasi, kadang disertai psikologis dan sensoris yang disebabkan adanya kerusakan pada masa perkembangan otak. Di lihat dari penggolongan menurut derajat kecacatannya, AN tergolong ringan yakni tanpa menggunakan alat bantu dalam melakukan aktivitas kesehariannya. Sedangkan menurut topografinya, AN tergolong Hemiplegia, yakni terdapat lumpuh atau kaku anggota tubuh atas dan bawah dengan sisi yang sama. Kemudian jika dilihat menurut fisiologi, kelainan geraknya, AN tergolong dalam hal :

1. Spastik : Kekakuan pada sebagian otot

2. Dyskenisia : Tidak ada control dan koordinasi gerak

3. Athetosis : Terdapat gerakan-gerakan yang tidak terkontrol yang terjadi sewaktu-waktu dan tidak dapat dicegah serta terjadi secara otomatis.

4. Ataxia : Terdapat gangguan keseimbangan

Sehingga jika dirumuskan AN termasuk dalam kategori mixed, yakni campuran dari spastik, dyskenisia, athetosis, dan ataxia. Jika telah diketahui jenis gangguan yang terjadi pada diri AN. Maka jika ditinjau dari klasifikasi penyebabnya, AN tergolong dalam hal cacat bawaan yang berarti terjadi dari dalam kandungan atau terdapat kesalahan saat melakukan proses kelahiran.

Meski sekarang AN menginjak kelas 6, namun perkembangan akademis AN belum bisa disetarakan dengan anak kelas 6. Pasalnya, dalam aspek membaca, menulis, dan berhitung (CALISTUNG) AN belum bisa melakukannya secara maksimal dan masih banyak membutuhkan bantuan. Idealnya, anak kelas 6 sudah bisa melakukan CALISTUNG dengan baik dan benar, namun tidak pada AN. Ia masih membutuhkan bantuan pendampingan untuk melakukan kegiatan ini.

c0b7390810a4684c2c9c6a8e0ad37104_5-ppl-1

Pas lagi belajar nulis sama AN

8045b5c053d275a9100fa787bf1cc522_5-ppl-2

Kalo ini belajar kenal huruf

f4bd5279a235d09bb5538dab14e3686d_5-ppl-3

Nah yang ini sketsa pembelajarannya. Lempar bola+susun huruf+berhitug+nulis

Oleh karena itu, meskipun AN telah menginjak kelas 6, perkembangan akademisnya masih setara dengan siswa kelas 2 SD yang masih mengembangkan aspek membaca, menulis, dan berhitung. Sehingga dalam kesempatan kali ini, penulis berfokus untuk mengembangkan aspek membaca, menulis, dan berhitung (CALISTUNG) sebagai bekal dasar kemampuan akademis subjek. Untuk membantu jalannya kegiatan belajar mengajar, penulis memilih untuk membuat media kartu abjad sebagai media pembelajaran yang bisa membantu AN dalam melakukan kegiatan membaca dan menulis. Untuk mengembangkan aspek berhitung dan juga motoriknya, penulis memilih untuk mengembangkan terapi okupasi menggunakan media keranjang bola. Sehingga, besar harapan penulis untuk turut serta mengembangkan kemampuan AN dalam hal membaca, menulis, dan berhitung (CALISTUNG) menggunakan media yang telah dipersiapkan dengan baik.

Setelah diberi program pengembangan pembelajaran menggunakan kartu abjad yang dipadukan dengan keranjang bola yang dilakukan selama 2 bulan, terhitung mulai dari 30 Agustus 2014 hingga 22 Oktober 2014, berikut progress pembelajaran yang terjadi pada diri subjek (AN ) :

1. Dalam aspek membaca, AN sudah bisa mengenal dan membedakan huruf “b,d, dan p” melalui media kartu abjad. Kemudian, ia juga bisa mengeja 2 suku kata dan membacanya menjadi sebuah kata utuh yang memiliki makna.

2. Dalam aspek menulis, AN sudah bisa mengendalikan gerak tangannya untuk menulis huruf yang lebih kecil dari biasanya didalam kotak yang telah disediakan. Meskipun terkdang AN tidak bisa mengendalikan gerak tangannya.

3. Dalam aspek berhitung, AN telah bisa menghitung satuan angka dengan baik menggunakan gambar yang dijadikan acuan. Selain itu, dalam berhitung, AN juga mampu menggunakan stick dan bola sebagai media bantunya dalam melakukan proses berhitung.

Jika dalam aspek perkembangan bina dirinya, AN sudah mampu melakukan beberapa aktivitas kesehariannya secara mandiri. Namun ada beberapa hal yang masih membutuhkan bantuan, misalnya : mengancing baju, ia masih membutuhkan orang lain untuk membantu melakukan aktivitasnya tersebut. Oleh karenanya, demi kebaikan perkembangan AN selanjutnya, penulis mengajukan beberapa saran, diantaranya sebagai berikut :

1. Pemberian sex education. Berhubung AN sudah berada dalam tahapan remaja. Maka alangkah lebih baik ia dikenalkan dengan sex education agar ia memahami lebih detail terkait perkembangan dirinya.

2. Pengembangan bina diri. Agar ia lebih mandiri dalam melakukan aktivitas kesehariaanya.

3. Pengembangan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (CALISTUNG) yang lebih kompleks.

ed7df647356c13faa9abdbdecba164e2_5-ppl-5

Foto perpisahan sama P. Susanto (paling kiri) dan Bu Herlia (paling kanan)

Terima kasih Bapak Susanto (selaku kepala sekolah SDN Sumbersari 3 Malang) yang telah mengizinkan saya melakukan kegiatan PPL, Ibu Herlia (selaku guru pamong) yang telah membina saya, Ibu Enta (selaku guru pembimbing khusus) yang telah mendampingi dan membimbing saya secara maksimal dalam melaksanakan kegiatan PPL, AN yang telah menjadi subjek dalam kegiatan PPL ini, dan segenap warga SDN Sumbersari 3 Malang yang telah membantu pula dalam menuntaskan kegiatan PPL ini. Sungguh, ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya dalam mengenal lingkungan kerja. Terima kasih dan semoga apa yang kita lakukan benar-benar barokah, amiin….

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Gerakan #SemangatNgeblog


TAGS SDN SUMBERSARI 3 MALANG PPL PSIKOLOGI PENDIDIKAN


-

Author

Search

Recent Post