BERMAIN DAN BELAJAR DI LAPAS ANAK BLITAR

29 Dec 2014

Mungkin saya harus mengucap rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya buat Ibu Tutut (selaku dosen pengampu mata kuliah psikolohi sosial). Saat itu memang kali pertama bagi saya dan teman-teman psikologi offering B angkatan 2011 untuk mendalami langsung fenomena sosial yang terjadi di lapan anak Blitar.

1a8c35e4230c4fba082f83f5c6ce98f7_12-lapas-anak-blitar-1

sama temen-temen psikologi UM offering B 2011

Sungguh ini pengalaman yang luar biasaaaaa!!!

Pasalnya ini adalah kali pertama saya masuk lapan anak dan berkomunikasi langsung dengan mereka. Yaaa, kami disana tidak hanya main dan silaturahmi saja. Tapi kami harus mampu menggali informasi sebanyak mungik pada seorang subjek yang kami wawancarai nantinya untuk dicari tahu kasus yang menyebabkan ia masuk lapas.

Saat itu saya mewawancarai remaja putra yang bernama SY. SY masuk ke dalam lapas anak karena terkena kasus narkoba. Awalnya, ketika ia sedang duduk di kelas 2 di salah satu sekolah MA atau setaraf dengan SMA di Kabupaten Blitar, ia mengenal yang namanya narkoba. Saat itu, tak dapat dipungkiri, di internal keluarganya sedang terjadi masalah, SY merasa jenuh ketika di rumah sehingga ia banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya untuk nongkrong. Pada saat momen nongkrong itulah, teman-teman SY memperkenalkan obat terlarang tersebut pada SY. Awalnya, SY yang masih polos hanya mencoba-coba. Namun, lama- kelamaan ia menjadi pecandu dan bahkan pengedar narkoba. SY juga bilang bahwa sehari ia mampu menghabiskan 10 butir pil yang sangat mudah ia dapatkan. Hanya dengan uang Rp 5.000,- ia mampu membeli 8 butir pil (narkoba). Ia mengaku bahwa ia hanya menjadi pecandu dan pengedar narkoba jenis pil saja. Ketika terjadi proses penggrebekkan, beberapa teman nongkrongnya terjaring aparat kepolisian, beruntung SY saat itu tidak tertangkap. Namun, na’asnya teman-teman SY tersebut berkata pada pihak kepolisian bahwa ia membeli barang haram tersebut dari SY dan akhirnya pihak aparat pun langsug meringkus SY. Saat itu, SY hanya bisa pasrah atas keadaan yang sedang ia alami. Ia menjadi tersangka pengedar narkoba dan di jerat hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp 200.000,-.

Malu dan sedih, itulah yang SY ungkapkan ketika awal masuk lapas. Ia melihat beban kesedihan keluarga (terutama ibu), tatkala ia di ringkus pihak kepolisian. Namun, SY berusaha menerima semua ini. Ia mencoba tegar. Begitu juga dengan pihak keluarganya, meski awalnya mereka sulit menerima kenyataan ini, tapi pada akhirnya pihak keluarga SY mampu menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Pihak keluarga SY (ayah, ibu,dan kakak laki-lakinya) setiap 2 minggu sekali membesuk SY di lapas. Begitu juga dengan sang kekasihya, awalnya sang kekasih terpukul berat ketika mendengar SY terjerat kasus narkoba, sempat tidak menerima kenyataan ini, namun seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya sang kekasih pun menerima keadaan SY da akhir-akhir ini pun sering membesuk SY di lapas.

Saat berada di lapas, SY mengaku memiliki hubungan baik terhadap penghuni lapas lainnya. Meski awalnya terdapat senioritas penghuni lapas, tapi akhirnya SY bisa menyesuaikan keadaan ini dan sekarang SY memiliki 4 sahabat baik di dalam lapas anak Blitar. Bukan hal mudah ketika SY harus menyesuaikan keadaan yang sebelumnya bebas tak terbatas namun sekarang ini terkurung dalam puluhan tembok besar yang membatasi kebahagiaannya. SY yang awalnya mampu menelan 10 butir pil (narkoba) dalam sehari, kini ketika ia di lapas, ia harus meninggalkan aktivitas buruknya tersebut. Tubuhnya kerap kali memberontak tatkala ia tidak menelan pil haram tersebut, SY mengaku ketika ia tidak mengkonsumsi pil tersebut, ia merasa lemas tak berdaya. Peralihan yang ia lakukan adalah tidur atau mandi, dengan begitu ia mengaku bisa fresh kembali. Kini ia telah menjalani kehidupan yang berada di lapas selama 4 bulan. Dalam 4 bulan ini, ia mengaku menjalani kegiatan yang datar-datar saja. Hal ini terbukti dengan jadwal kegiatannya yang telah ditetapkan oleh pihak lapas, yakni : jam 07.30 sarapan, kemudian dilanjut bercengkrama dengan penghuni lapas lainnya, jam 11.00 ia makan siang dan dilanjut kembali dengan bercengkrama dengan penghuni lapas lainnya dan sesekali menonton tv, jam 17.00 ia makan sore dan kembali ia melanjutkan aktivitasnya untuk bercengkrama atau sekedar melihat tv dengan penghuni lapas lainnya, jam 22.00 ia sudah harus tidur. Ia berkata bahwa ia tidak mendapatkan pembinaan dari lapas, menurutnya semua yang terkena khasus narkoba tidak mendapat pembinaan intensif dari pihak lapas, yang mendapat pembinaan hanyalah kasus non narkoba dan itu yang mendapat kurungan penjara yang cukup lama. Sehingga, jadwal kegiatannya pun dibiarkan saja datar-datar seperti diatas. SY mengaku jenuh tatkala berada di lapas, ada kalanya ia ingin mengikuti program pembinaan (seperti teman-temannya yang terjerat kasus non narkoba), namun ia mengaku malu dan takut ketika hendak mengikuti program pembinaan tersebut (misalnya futsal, drumband, band, dll). Hingga ia memutuskan untuk sekedar melihat mereka secara kejauhan saja.

Kejenuhan yang dirasakan SY, semakin memberikan gambaran masa depan ketika ia dibebaskan dari lapas ini. Ia sempat berkata bahwa setelah ia keluar dari lapas ini, ia ingin melanjutkan sekolah dan bekerja. Ia mengaku kapok terjerat kasus narkoba dan mengaku tidak akan mengulanginya lagi. Planning SY juga sangat di dukung kuat oleh pihak keluarga, pasalnya sang ibu sendiri menginginkan ketika SY dibebaskan harapannya SY kembali melanjutkan sekolahnya, berbeda dengan sang ayah yang menginginkan SY untuk mondok. Namun keinginan sang ayah tersebut ditolak SY, karena SY pada dasarnya tidak menyukai dunia pondok dan lebih memilih untuk melanjutkan saja di dunia sekolah umum seperti sedia kala. Itulah deskripsi kasus SY yang telah kita dapat melalui metode wawancara.

*** BELAJAR MENGANALISA KASUS ***

Kasus SY merupakan kasus yang sangat kompleks, perlu ketelitian dan kejelian yang mendalam dalam menganalisa kasus SY. Dalam kasus ini, teori psikologi sosial yang diangkat adalah teori pengaruh sosial. Tak dapat dipungkiri, setiap insan yang terdapat di muka bumi ini tak akan bisa hidup sendiri dan pasti membutuhkan bantuan orang lain, baik disadari maupun tidak disadari. Orang lain sangat berpengaruh besar dalam pembentukan perilaku seseorang. Tak banyak orang-orang yang mengetahui jika ia seringkali diatur oleh lingkungan. Lingkungan pasti memiliki norma kehidupan. Antara lingkungan satu dengan lingkungan yang lainnya memiliki norma kehidupan yang berbeda-beda. Norma bersifat mengikat, ada norma tertulis maupun norma tidak tertulis. Norma tertulis bisa dicontohkan dengan adanya undang-undang yang mengatur kehidupan masyarakat, sedangkan norma tidak tertulis bisa dicontohkan dengan adanya adat atau budaya yang telah menjadi cirri khas dan sudah selayaknya dipatuhi bagi anggota masyarakat di suatu daerah. Jika anggota masyarakat tidak mematuhi norma tersebut, terdapat sanksi yang diberikan oleh lingkungan sekitarnya, baik sanksi secara langsung maupun tidak langsung. Maksud dari sanksi langsung adalah ketika seseorang melakukan kesalahan, maka ia akan langsung di beri hukuman oleh lingkungan sekitarnya, missal: mencuri sepeda, lingkungan sekitar akan menghakimi dan melaporka ke polisi. Sedangkan, sanksi secara tidak langsung maksudnya, individu secara tidak langsung telah mendapat sanksi dari lingkungan sosialnya, biasanya bersifat hukuman psikoloogis, misal : seorang gadis desa sering pulang dari rumah temannya hingga larut malam, tetangga gadis tersebut mengetahui perilaku demikian hingga sang tetangga tersebut menegur dengan keras perilaku sang gadis, sang gadis akhirnya terpukul secara mental atau psikologisnya. Ketika berbicara masalah sanksi, hal ini tidak terlepas adanya konformitas, konformitas adalah suatu bentuk pengaruh sosial di mana individu mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial (Baron, Bryne, dan Branscombe, 2008). Individu jika berada dalam suatu kelompok atau lingkungan sosial, perilakunya cenderung dipengaruhi oleh kelompok tersebut dan cenderung akan mematuhi. Berbicara masalah mematuhi, kepatuhan seseorang juga bisa disebabkan akan adanya compliance, yakni permintaan langsung dari suatu kelompok untuk melakukan apa yang diinginkan kelompok tersebut. Faktor-faktor yang memengaruhi individu menerapkan compliance pada suatu kelompok adalah :

  1. Pertemanan atau rasa suka
  2. Komitmen atau konsistensi
  3. Kelangkaan
  4. Timbal balik
  5. Validasi sosial
  6. Otoritas

Faktor-faktor tersebut sering kali membawa individu untuk menerapkan compliance di lingkungan sosialnya, baik itu disadari maupun tidak disadari. Dalam kehidupan sosial disuatu kelompok, seringkali terdapat seseorang yang memiliki power tinggi dan dianggap sebagai seorang pemimpin dalam kelompok tersebut. Anggota dari kelompok tersebut cenderung mematuhi atas apa yang dikatakan oleh pemimpin kelompok tersebut, hal ini dinamakan obedience. Seperti halnya yang dikatakan oleh (Baron, Branscombe, dan Bryne, 2008) obedience merupakan salah satu jenis pengarubh sosial, di mana seseorang menaati dan mematuhi permintaan orangb lain untuk melakukan tingkah laku tertentu karena adanya unsur power. Dengan demikian, jelas dikatakan bahwa obedience sangat berpengaruh besar dalam tingkah laku seseorang dalam suatu kelompok.

Dari penjelasan mengenai teori pengaruh sosial terhadap tingkah laku individu, dapat ditarik suatu asumsi dasar bahwasanya sikap maupun perilaku individu cenderung dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Begitu juga dengan kasus SY yang titik awal permasalahannya dari lingkungan sosialnya hingga kemudian membenetuk sikap dan perilakunya dalam menghadapai suatu masalah kehidupan.

Awalnya, SY terkena kasus narkoba karena ia memiliki masalah kehidupan yang membebani hidupnya. Ia memiliki masalah keluarga yang membuat hidupnya tak nyaman jika berada di rumah. Ia mencari kenyamanan diluar hingga ia banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya di luar rumah. Ia merasa nyaman tatkala bersama teman-temannya, ia telah merasa satu dengan temannya hingga ia mematuhi segala aturan ataupun norma yang ditetapkan secara tidak langsung oleh teman-temannya. Teman-temannya banyak yang merokok dan memakai narkoba, hal ini untuk menunjang pergaulan mereka dan sebagai bukti eksistensi diri dalam lingkungan sosial mereka (norma sosial). Awalnya, SY mengetahui bahwa itu bukanlah sikap yang terpuji untuk dilakukan, namun karena adanya pengaruh sosial yang memengaruhi sikap dan perilaku SY, akhirnya SY terjerumus juga dalam jurang narkoba (konformitas). Pengaruh sosial sangatlah besar dalam sikap dan perilaku SY dalam kelompoknya, buktinya ketika bergaul dengan teman-temannya, konformitas dari lingkungan sosial SY dapat terlihat jelas. Tak hanya itu, permintaan langsung dari teman-teman SY juga memengaruhi sikap dan perilaku SY dalam lingkungan sosialnya. Hal ini dapat kita lihat ketika SY sempat menolak saat di minta oleh teman-temannya untuk mencoba pil narkoba. SY sempat menolak, namun teman-teman SY berkata bahwasanya ini adalah cara untuk meningkatkan eksistensi dan harga diri seorang lelaki dalam kelompom tersebut. Pemintaan langsung dari teman-teman SY ini, akhirnya menggoyahkan prinsipnya yang mulanya bertekat untuk tidak mencoba narkoba, akhirnya menjadi konsumsi narkoba (compliance). SY sempat mencoba-coba, namun ketika ia merasakan suatu kenyamanan saat memakai narkoba ia menjadi tergila-gila dengan narkoba hingga akhirnya ia menjadi pecandu. Hal ini didukung penuh oleh teman-teman SY untuk tetap menjadi pecandu narkoba. Dengan adanya pengakuan dari teman-temannya, SY merasa ia semakin bebarti dalam kelompoknya dan harga dirinya menjadi semakin terangkat. Dengan naiknya harga diri SY dalam kelompok tersebut, membuat S semakin eksis dalam kelompoknya. Kemudian, tak lama setelah menjadi pecandu narkoba, S merangkap profesi sebagai agen penjual narkoba jenis pil. Dengan harga yang sangat murah ia menjual ke langganannya. Ia menuturkan bahwa ia mendapatkan narkoba dengan harga yang sangat murah dan dengan cara yang mudah, ia membeli pil narkoba seharga Rp 5.000,00 dan mendapat 8 butir pil narkoba. Sehari ia bisa mengkonsumsi sepuluh butir pil narkoba dengan lahapnya. Saat menjual pun, SY mematuhi aturan yang tengah ditetapkan oleh kelompoknya. SY memiliki atasan yang mengikat sikap dan perilaku dia, ia mengaku memiliki kontrak dengan atasannya. Ia seolah-olah patuh terhadap atasannya. SY siap melakukan apapun perintah dari atasannya. Hal ini terbukti ketika SY tertangkap polisi karena dugaan menjadi pengedar narkoba, SY tidak mau membawa atasananya ke dalam jerat penjara karena ia telah memiliki perjanjian moral dengan atasannya, sehingga ia benar-benar patuh terhadap sang atasan yang memiliki power lebih tinggi dari pada YS (obedience). Dari penjabaran analisi teori dan kasus diatas, dapat dikatakan bahwa sikap dan perilaku SY sangatlah dipengaruhi oleh pengaruh sosial di lingkungannya.

*** ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH***

1. Memberikan penyuluhan intensif tentang narkoba.
S merupakan anak yang apatis terhadapa penyuluhan narkoba. Perlu pendekatan personal yang lebih intensif untuk membuka cakrawala S tentang bahaya narkoba. Meskipun kini ia telah berada di lapas, namun pembinaan dan pendampingan personal terhadap S sangat perlu dilakukan

2. Rehabilitasi.
Sudah selayaknya S mendapat penanganan rehabilitasi terkait kasus narkoba yang ia alami. Meski ia tengah berada di lapas, ia belum mendapat pembinaan intensif dan rehabilitasi khusus terkait kasus narkoba. Idealnya, S ditempatkan dipanti rehabilitasi untuk memulihkan kondisi fisik dan mentalnya

3. Memberikan motivasi secara intens untuk melanjutkan minat sekolahnya.
S memiliki minat yang tinggi bahwa ketika ia bebas dari lapas, ia ingin melanjutkan sekolahnya yang sempat tertunda. Niat mulia ini perlu adanya dukungan dan motivasi agar ia tetap memegang dan memperjuangkan cita-citanya tersebut

4. Meningkatkan kegiatan yang bermanfaat dan dapat mengalihkan perhatian darinya terhadap narkoba.
Dengan adanya pengisian aktivitas dengan berbagai macam kegiatan yang menyenangkan, ia dapat beralih dari aktivitasnya untuk mengkonsumsi dan mengeadrkan narkoba

5. Controlling terhadap pergaulan
Pengawasan dari lingkungan sekitar dan keluarga perlu di intensifkan kembali agar tidak terjerumus lagi dalam pergaulan yang salah

23b7898bb0777d1930d83b9843f2c590_12-lapas-anak-blitar-2

Sama teman-teman binaan lapas anak Blitar

Kegiatan kunjungan di lapas anak Blitar ini, sangatlah bermanfaat terhadap perkembangan kemampuan sosial mahasiswa/i. Pasalnya, melalui kegiatan ini, kita dapat berinteraksi dengan orang lain yang belum pernah kita kenal sebelumnya dan kita melakukan pendekatan personal untuk menggali lebih dalam orang yang baru kita kenal tersebut. Perlu ketrampilan khusus memang, namun melalui kegiatan ini dapat dijadikan suatu ketrampilan awal untuk melatih kemampuan berbicara dan kemampuan sosial dari mahasiswa/mahasiswi.

Setiap orang pasti punya latar belakang dan masalah kehidupan masing-masing, lingkungan sosial sangat berpengaruh dalam menentukan sikap dan perilaku kita. Lingkungan sosial dapat memberikan suasana menjadi lebih baik, namun kadang kala lingkungan sosial juga dapat memperburuk suasana, bukannya masalah yang terselesaikan, justru masalah semakin bertambah dengan hebatnya. Masalah kehidupan sanngatlah kompleks, perlu step by step untuk menyelesaikan masalah kehidupan agar lebih terstruktur dan jelas, dengan demikian beban kehidupan pun satu per satu dapat berkurang. Namun, masalahnya tidak semua orang dapat menyelesaikan permasalahan kehidupan secara step by step, perlu pendampingan dan pembinaan secara khusus dari orang yang memiliki berpengalaman. Dalam hal inilah, sudah selayaknya ilmuwan/wisudawan atau wisudawati psikologi memberikan kontribusinya pada lingkungan yang membutuhkan bantuan mereka. Begitu juga dengan psikolog, yang sudah menjadi kewajiban untuk memberikan bantuannya terhadap orang yang kesulitan menangani permasalahan hidup mereka.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Gerakan #SemangatNgeblog


TAGS lapas anak blitar Psikologi UM psikologi sosial


-

Author

Search

Recent Post